Kota Uslar di Goettingen

Kota kecil menawan yang tak pernah terlupakan. Tiga minggu disana pada November 2019 terasa cepat berlalu.

Sisa peninggalan perang dunia II. Salah satu sisi Tembok Berlin.

Dapat dibayangkan bagaimana Jerman Barat dan Timur harus berpisah puluhan tahun akibat kalah perang.

BI Corner di SIPUSNELA

Kerjasama antara perpustakaan Sipusnela dengan Bank Indonesia salah satunya adalah pengadaan pojok baca.

Outing class kelas peminatan Bahasa Budaya

Salah satu agenda tahunan kelas XI Bahasa mengunjungi Wisma Jerman sebagai perwujudan Merdeka Belajar.

Calon Guru Penggerak Angkatan 7

Belajar sampai akhir hayat, tidak ada kata terlambat.

Keluarga kecil bahagia

Penyemangat disaat lelah dan penghibur disaat gundah, merekalah cintaku.

Kerjasama MGMP dengan UNESA

Salah satu wujud kerjasama antara MGMP Bahasa Jerman dalam pengabdian masyarakat oleh Jurusan Bahasa Jerman UNESA.

Rabu, 21 Desember 2022

Koneksi Antar Materi_Modul 1.4_Budaya Positif



Menciptakan budaya positif di sekolah adalah sebuah tantangan yang sangat berat untuk dilakukan. Karena hal tersebut membutuhkan kerjasama banyak pihak, baik dari internal maupun eksternal. Hal pertama yang diciptakan adalah “Disiplin Positif”. Dalam menerapkan disiplin positif harus memberikan contoh terlebih dahulu agar nantinya dapat diteladani. Contoh kecilnya ketika membuang sampah pada tempatnya. Kita harus memberikan contoh sebelum kita menasehati anak-anak.

Hal kedua yang diaplikasikan adalah “Motivasi Perilaku Manusia” dalam hal ini tentang pemberian hukuman dan pengahargaan terhadap siswa. Dengan memperhatikan fungsi keduanya, saya berusaha untuk memberikan hukuman dan atau pengahargaan seuai dengan konteks dan tujuan yang tepat. Krena kedua tindakan tersebut sama-sama memiliki efek negatif.

Hal ketiga yang dilakukan adalah “Posisi Kontrol Restitusi”. Dalam menghadapi permasalahan yang terjadi pada saat atau setelah pembelajaran, saya harus bisa memposisikan diri sebagai teman, manajer, pemantau atau pembuat rasa bersalah. Hal tersebut dilakukan agar dapat menimbulkan efek terhadap subjek yang sedang kita dekati.

Hal keempat yang perlu dibentuk adalah “Keyakinan Sekolah/ Kelas”, agar semua pihak sepakat terhadap peraturan demi terwujudnya cita-cita bersama. Stabilitas sekolah/ kelas pun dapat dijaga apabila seluruh warga sekolah atau anggota kelas dapat mematuhi Keyakinan yang telah disepakati.

Hal terakhir adalah pembinaan terhadap siswa yang bermasalah. Tindakan tersebut dapat menggunakan segitiga restitusi. Tiga tahapan di dalamnya dapat mengurai permasalahan yang ada dan mencarikan alternatif solusi.

Kelima hal tersebut diatas dilakukan dengan landasan filosofi pendidikan KHD, dimana saya harus dapat memahami hakikat pendidikan yang menuntun, memperhatikan kodarat alam dan zaman peserta didik, dan selalu  menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid. Dalam melaksanakan tindakan saya bersemangat untuk selalu inovatif dan kolaboratif sesuai dengan nilai-nilai yang saya yakini sebagai calon guru penggerak.  

Setelah mempelajari modul ini saya dapat menjelaskan makna ‘kontrol’ dari paparan Teori Kontrol Dr. William Glasser serta miskonsepsi yang terjadi di kehidupan sehari-hari, serta dapat menjelaskan perubahan paradigma stimulus respon kepada teori kontrol. Berikutnya saya dapat menjelaskan makna Disiplin Positif, dan mengamati penerapannya di lingkungannya, serta kaitan Teori Kontrol. Saya juga dapat menjelaskan pentingnya memilih dan menentukan nilai-nilai kebajikan yang akan diyakini dan disepakati seluruh warga sekolah, sehingga kelak tercipta sebuah budaya positif.

Selain itu saya dapat menjelaskan konsep teori motivasi, hukuman dan penghargaan, dan pendekatan restitusi. Dan juga dapat melakukan pengamatan dan peninjauan atas praktik penerapan konsep-konsep tersebut di lingkungan saya sendiri.

Saya dapat menganalisis pentingnya memiliki keyakinan sekolah/kelas sebagai fondasi dan arah tujuan sebuah sekolah/kelas, yang akan menjadi landasan dalam memecahkan konflik atau permasalahan di dalam sebuah sekolah/kelas. Saya juga dapat menjelaskan proses pembentukan dari peraturan-peraturan beralih ke keyakinan kelas.

Yang menurut saya di luar dugaan adalah pembahasan mengenai hukuman dan penghargaan. Dimana selama ini saya selalu berpendapat bahwa keduanya memiliki efek yang positif untuk mendidik karakter siswa. Akan tetapi disini saya disadarkan mengenai efek negatif dari hukuman dan penghargaan.

Perubahan yang terjadi pada cara berpikir saya dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah setelah mempelajari modul ini, akan saya jelaskan. Saya menjadi lebih jeli dalam melihat sebuah permasalahan. Bahwa sebuah masalah tidak timbul dari sesuatu yang baik-baik saja. Sehingga tidak cepat memutuskan siapa yang salah dan siapa yang harus dihukum. Segitiga Restitusi juga menhajarkan saya bahwa pihak yang kita anggap salah berhak menyampaikan pendapat atau sanggahan atas tuduhan yang kita berikan. Mereka juga berhak untuk memberikan solusi terhadap kasus yang dialaminya, seperti pada tahapan kedua Segitiga Restitusi yaitu Validasi Tindakan yang Salah.

Pengalaman yang pernah say alami terkait penerapan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif baik di lingkup kelas maupun sekolah. Pada saat pengerjaan tugas Demonstrasi Kontekstual modul 1.4 kemarin saya mempraktikkan segitiga restitusi. Dua siswa yang saya anggap memiliki kasus dalam pelajaran, saya ajak untuk membicarakan permasalahan mereka. Awalnya saya khawatir bahwa tindakan yang saya lakukan akan membuat mereka tidak nyaman, akan tetapi di akhir proses mereka malah memberikan tanggapan positif.

Menurut saya yang sudah baik adalah pengantar saya menuju proses identifikasi. Yang perlu diperbaiki adalah intonasi penyampaian saya yang masih sangat kaku.

Sebelum mempelajari modul ini posisi kontrol yang sering saya gunakan adalah sebagai pembuat rasa bersalah. Dengan harapan ketika mereka mengetahui salah mereka maka tidak akan mengulanginya di kemudian hari. Dan setelah mempelajari modul ini saya lebih senang memposisikan diri sebagai pemantau awalnya kemudian sebagai manajer. Dengan begitu stabilitas kelas masih dapat saya kontrol. Sebelum mempelajari modul ini saya belum pernah menerapkan Segitiga Restitusi.

Selain konsep-konsep yang disampaikan pada modul ini, hal lain yang saya anggap penting adalah kecepatan progres perubahan. Kita tidak bisa tiba-tiba menjadi orang yang sangat brbeda dari sebelumnya. Hal tersebut akan mempengaruhi pandangan orang-orang di sekitar terutama murid kita sendiri.


 

Rabu, 09 November 2022

Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1

CGP 7 Lawang



Tulisan ini saya buat untuk menyelesaikan tugas akhir Modul 1.1 dalam Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 7


Salah satu tokoh yang sangat penting dalam dunia pendidikan Indonesia adalah Ki Hadjar Dewantara. Pemikiran yang dimiliki beliau nyatanya mampu diaplikasikan sampai dengan masa kini. Ki Hadjar Dewantara (KHD) membedakan kata Pendidikan dan Pengajaran dalam memahami arti dan tujuan Pendidikan. Menurut KHD, pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari Pendidikan. Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Hal tersebut menyadarkan saya yang selama ini beranggapan bahwa pendidikan dan pengajaran memiliki makna yang sama. Setelah menamatkan modul 1.1 ini beberapa pemikiran yang membekas adalah pendidikan yang menuntun dan tentang budi pekerti. 

Mengenai pendidikan yang menuntun, KHD menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak. Dalam menuntun laku dan pertumbuhan kodrat anak, KHD mengibaratkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Anak-anak itu seperti biji tumbuhan yang disemai dan ditanam oleh pak tani atau pak tukang kebun di lahan yang telah disediakan. Anak-anak itu bagaikan bulir-bulir jagung yang ditanam. Bila biji jagung ditempatkan di tanah yang subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun biji jagung adalah bibit jagung yang kurang baik (kurang berkualitas) dapat tumbuh dengan baik karena perhatian dan perawatan dari pak tani. Mengenai pemikiran ini sebelumnya saya menganggap diri saya adalah satu satunya sumber bagi siswa saya, sehingga saya kurang memberi ruang bagi siswa untuk belajar secara mandiri, saya terus mendikte mereka tentang apa dan bagaimana yang harus dilakukan. Termasuk dalam mengarahkan menuju masa depan saya sedikit memaksakan siswa saya menuju masa depan yang menurut saya baik. 

Pemikiran tentang budi pekerti merupakan salah satu yang menyadarkan saya sebagai pendidik, bahwa sangat penting untuk menumbuhkannya dalam jiwa siswa sedini mungkin. Menurut KHD, budi pekerti, atau watak atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Budi pekerti juga dapat diartikan sebagai perpaduan antara Cipta (kognitif), Karsa (afektif) sehingga menciptakan Karya (psikomotor). Dalam pembelajaran selama ini unsur budi pekerti ini kurang saya aplikasikan secara menyeluruh. Menurut saya siswa yang berbudi pekerti baik adalah yang menyelesaikan dan mengumpulkan tugas tepat waktu serta siswa yang bersikap sopan santun terhadap guru. Ternyata lebih dari itu, budi pekerti seharusnya mempengaruhi keberhasilan pembelajaran. Karena hampir dapat dipastikan bahwa siswa dengan budi pekerti luhur maka kemampuan mereka menguasai keterampilan pembelajaran juga baik. 

Kedepannya saya akan berusaha melaksanakan apa yang telah saya pelajari melalui modul guru penggerak ini.

Rabu, 14 September 2022

Resume ke-11 "Membuat Majalah Sekolah Yang Kreatif dan Indah"

 Berjumpa lagi.... dengan saya dan coretan sederhana saya dalam bentuk resume pada kegiatan ....


Jika anda pernah dalam keadaan dikejar deadline dan bersamaan dengan sakit gigi, itulah keaadaan saya sekarang. Sangat mengganggu sekali, berpikir akan suatu hal dibarengi rasa sakit di pojok mulut bagian atas. Ditambah lagi, gigi yang bawah juga ikutan sakit karena ia berlobang.

Apa boleh buat, tugas harus dilaksanakan, deadline harus diselesaikan dan mengikuti pelatihan tidak boleh kelupaan.

Majalah sekolah yang dikelola oleh bu Widya (pemateri)

Malam ini temanya tentang majalah sekolah, sebuah pembahasan yang saya pernah mengalaminya. Bukan maksudnya saya pernah jadi narasumber, namun saya pernah menjadi kontributor di majalah sekolah. Mulai dari jaman dahulu waktu SMP sampai dengan sekarang ketika sudah menjadi pengajar di SMA.

Meskipun demikian, narasumber malam ini memiliki kemampuan dan pengalaman diatas rata-rata. Dijuluki sebagai penulis serba bisa, moderator mulai memperkenalkan puisi hasil karya beliau dan juga channel youtube pemateri. Untuk semakin menegaskan bahwa beliau mahir disegala macam seni sastra. Moderator juga menyampaikan bahwa narasumber malam ini akan membagi-bagikan hadiah kepada para peserta. Sedikit tapi berpengaruh pada mood saya malam ini untuk menulis resume sambal menyimak materi.

Bu Yandri Novita Sari, moderator malam ini nampaknya pintar sekali menyusun kata kata indah, membentuk lantunan syair yang sejuk dimata. Penulis dari pesisir barat Pulau Sumatera ini juga merupakan alumni Belajar Menulis gelombang sebelumnya.  Hal tersebut semakin menyemangati saya untuk menulis, karena moderatornya jauh-jauh dari tanah seberang memandu acara malam ini.

Instansi tempat bu Widya bekerja, MI Khadijah di Jalan Arjuno 19 A Malang

Pemateri malam ini adalah bu Widya. Pimred dari KHARISMA, majalah MI Khadijah Malang yang sudah menjabat sejak 12 tahun yang lalu. Banyak perubahan besar yang dilakukan, salah satunya adalah merubah majalah yang dulunya hanya 20 halaman dan berwarna hitam putih menjadi 40 halaman full color seperti sekarang ini.

Langkah-langkah menerbitkan majalah sekolah:

  1. Menyatukan ide dan gagasan
  2. Mengajukan proposal
  3. Membuat rancangan majalah
  4. Mencari rekanan/ sponsor pendukung
  5. Memanfaatkan rekan kerja yang memiliki kemampuan dan kemauan di bidang literasi

Susunan Redaksi Majalah Sekolah:

  1. Penasehat
  2. Penanggung Jawab
  3. Pimpinan Redaksi
  4. Editor
  5. Reporter
  6. Fotografer
  7. Layouter
  8. Bendahara

Manfaat majalah sekolah:

  1. Sarana komunikasi warga sekolah
  2. Media komunikasi sekolah
  3. Wadah kreativitas warga sekolah
  4. Sarana publikasi sekolah
  5. Salah satu kebanggaan sekolah

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menerbitkan majalah sekolah:

1) Membuat nama yang keren berupa singkatan nama sekolah
2) Menentukan artikel yang akan diterbitkan, contohnya:
  1. Visi misi sekolah
  2. Salam redaksi
  3. Berita sekolah
  4. Profil guru
  5. Profil siswa
  6. Karya siswa
  7. Kegiatan siswa
  8. Kuis berhadiah
  9. Prestasi sekolah
  10. Info dan pengumuman
3) Mengajukan ISSBN
4) Menentukan bahasa yang dipakai dalam majalah
5) Mencari tema dari hal yang sedang booming
6) Membuat sampul dan layout yang menarik
7) Percetakan
8) Upgrade ilmu secara kontinyu
9) Pupuk kekompakan tim 

Akhirnya tibalah pada sesi tanya jawab, dengan mengirimkan pertanyaan kepada moderator terlebih dahulu. Pertanyaan yang saya ajukan mendapat nomor ke-7, yaitu:

  1. Apakah boleh apabila reporternya adalah siswa juga? (Good idea, sangat dibolehkan pak. Nilai plus bagi sekolah kita ada team reporter siswa. Bisa dicoba pak 👏👏👏👏)
  2. Sebaiknya terbit berapa kali dalam satu tahun? (Kharisma terbit 6 bulan sekali. Persemester saat terima raport. Pertimbangannya agar berita yang diunggah semakin beragam, dan pertimbangan waktu. Mengingat tugas guru juga banyak sekali)
  3. Lebih baik mana majalah konvensional atau digital? (Sama sama memiliki kelebihan masing-masing. Jangkauan luas, tidak berbayar cetak merupakan keunggulan majalah digital. Konvensional lebih menarik, bisa dibaca ulang, bisa dibuat koleksi dan oleh-oleh tamu atau pengawas)

Kegiatan malam ini lumayan menguras energi untuk disimak. informasi yang disampaikan sangat bermanfaat sekali baik bagi yang belum punya maupun yang sedang mengembangkan majalah sekolahnya.
Sampai bertemu di kegiatan menulis berikutnya.

Salaam..


Rabu, 31 Agustus 2022

Resume ke-5 "Mengubah Karya Ilmiah Menjadi Lebih Berfaedah"

Dengan aktivitas yang lumayan padat, membuat tangan dan pikiran ini tidak bisa lepas dari gadget dan WhatsApp. Sehingga tak terasa pukul 7 pun berdentang. Saatnya untuk mulai menyiapkan diri belajar menulis dari para senior.


Narasumber kali ini adalah Noralia Purwa Yunita yang dipandu oleh bu Mutmainah. Pada pertemuan ini kami akan belajar bagaimana menulis buku dari Karya Ilmiah.
Berbeda dengan pertemuan sebelumnya, kali ini grup WA dibuka untuk umum. Sehingga seluruh peserta bisa berkomunikasi secara langsung dengan Narasumber. 
Ketika narsum menanyakan kepada peserta tentang pengalaman menulis mereka, semuanya pun berlomba untuk menjawab. Kebanyakan dari peserta sudah pernah menulis Skripsi, Tesis dan Makalah.
Tidak mau kalah dengan peserta yang lain, ikutan ketik untuk menjawab bahwa pernah menulis artikel untuk jurnal online.
Karya ilmiah adalah karya yang ditulis berdasarkan hasil riset ilmiah. Dan sejenak pikiran pun melayang ketika dahulu pernah dimintai tolong Mama untuk membuatkan PTK. Padahal saaat itu masih kuliah dan belum bekerja di dunia pendidikan. Untuk cara membuatnya lumayan bisa tapi karena minim pengalaman jadinya PTK yang dibuat adalah hasil copy paste sana sini.

Narasumber mengatakan bahawa karya tulis jenis ini sulit untuk dibuat namun ketika jadi, jarang yang berminat membacanya. Salah satu cara agar karya kita lebih banyak yang baca adalah menjadikannya sebuah Buku. Selain itu ada banyak manfaat yang dapat diperoleh ketika kita berhasil mengkonversi karya ilmiah tersebut menjadi sebuah buku:
  1. Dapat dibaca oleh masyarakat awam.
  2. Buku dapat diperjualbelikan, jadi ada keuntungan material yang dapat kita peroleh.
  3. Bagi para ASN, buku dapat dijadikan publikasi ilmiah yang dapat menambah poin angka kredit. Jadi selain mendapatkan poin AK dari laporan PTK, juga akan mendapatkan poin dari publikasi ilmiah berupa buku tadi. Sekali dayung 2 pulau terlampaui.
  4. Jika buku hasil konversi karya ilmiah milik kita banyak yang baca, banyak yang beli, ada kemungkinan nama kita sebagai penulis akan dikenal oleh banyak orang, ini juga merupakan keuntungan tersendiri
  5. Ilmu yang ada, dapat tersebar bebas tanpa sekat jika sudah diubah menjadi buku
Nah, bagaimana cara mengkonversi karya ilmiah kita menjadi sebuah buku? Ibu narasumber yang sangat berpengalaman dan berprestasi ini pun menjelskan dengan rinci tekniknya:

1. Mengubah Judul

Judul karya ilmiah versi buku hanya berfokus pada objek penelitian saja. Hilangkan materi, subjek, tempat penelitian. 
Sebagai contoh: 
Judul Tesis, Pengembangan modul berbasis riset pada materi reaksi redoks untuk meningkatkan keterampilan generik sains siswa kelas X SMA 
Ketika diubah menjadi judul buku menjadi Kiat Menulis Modul Berbasis Riset

2. Mengubah Daftar Isi

Biasanya untuk beberapa karya ilmiah, daftar isi berupa: 
Bab 1 Pendahuluan berisi latar belakang masalah, tujuan, manfaat, batasan masalah
Bab 2 Landasan teori
Bab 3 Metode penelitian yang berisi rumus-rumus statistika
Bab 4 Hasil dan pembahasan
Bab 5 Penutup yang berisi kesimpulan dan saran.
Namun ketika diubah menjadi BUKU, daftar isi menjadi : (ikuti pedoman 2W+1H)
Bab 1 (Why) menjelaskan pentingnya modul BERBASIS RISET
Bab 2( APA) menjelaskan apa itu modul berbasis riset
Bab 3,4,5, dan seterusnya ( How ) menjelaskan bagaimana tahap pembuatan, bagaimana hasil pembuatan, bagaimana penerapannya.

Boleh juga mengembangkan materi dari Bab 2 di KTI.

Sebagai contoh Bab 2 KTI yang merupakan landasan teori berisi
2.1. hasil belajar
2.2. media pembelajaran
2.3. Modul
2.4. metode pembelajaran
2.5 pembelajaran berbasis riset

ketika menjadi buku dapat dibuat menjadi beberapa bab yaitu;
Sub bab 2.1. hasil belajar menjadi bab 2 buku:

Bab 2 TEORI BELAJAR
2.1. belajar
2.2. permasalahan dalam pembelajaran
2.3. Hasil belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya

Sub bab 2.2. media pembelajaran menjadi bab 3 buku
Bab 3 MEDIA PEMBELAJARAN
3.1. Pengertian media
3.2. jenis media
3.3. manfaat media

Sub bab 2.3. modul menjadi bab 4 buku
Bab 4 mengenal modul 
4.1.pengertian modul
4.2. karakteristik modul
4.3.sistematika modul
4.4. kelebihan modul
dan seterusnya hingga sub bab dalam bab 2 selesai…

3. Mengubah Sedikit Isi Karya Ilmiah

Dalam mengubah karya ilmiah menjadi buku, penting sekali memperbanyak isi materi variabel bebasnya. Kita dapat menentukan perluasan materi tersebut berdasarkan kata kunci judul buku kita. Dengan kata lain, karya ilmiah yang diubah menjadi buku berarti lebih memperluas isi bacaannya berdasarkan sumber yang relevan. Misalkan judul: Implementasi Media Stereofoam Pembelajaran Organisasi Kehidupan Untuk Meningkatkan Kreativitas
maka yang harus dikembangkan adalah tentang Media (Pengertian, manfaat, jenis), Pembelajaran (materi tentang belajar mengajar), Kreativitas (diberi pengertian dan lainnya).
Hilangkan semua "kata Penelitian/ laporan PTK, laporan skripsi" dan lainnya yang biasanya ada di karya ilmiah
Boleh menampilkan grafik tetapi jangan terlalu banyak. Grafik yang penting saja. Grafik lain yang tidak ditampilkan, ubah dalam bentuk kalimat.

4.  Secara kebahasaan dan penyajian, karya ilmiah versi buku haruslah berbeda dengan versi laporan. 

Susunan dan gaya tulisan bebas terserah penulis, karena setiap penulis memiliki ide dan kreativitas masing-masing sesuai dengan pengalaman dan bahan bacaannya. Semakin literatnya penulis maka akan semakin oke buku yang dia tulis. Hal ini karena membaca, berpikir dan menulis adalah satu rangkaian literasi yang tidak dapat dipisahkan. Selain itu, kita harus mengupayakan agar pembaca memahami isi buku kita secara lengkap, dan mengena apabila menjadi karya ilmiah kita diubah menjadi buku

5. Daftar pustaka boleh menggunakan blog 

Namun situs blog resmi seperti Kemendikbud.go.id, Jurnal ilmiah, e book,,atau karya ilmiah lainnya. Namun, hindari menggunakan daftar pustaka berupa blog pribadi dengan domain blogspot, wordpress, dan lain sebagainya

6. Berikanlah ulasan mengenai kelebihan dan kelemahan penelitian yang anda lakukan agar pembaca yakin bahwa anda benar-benar telah melakukan penelitian tersebut

7. Karya ilmiah versi buku minimal 70 halaman format A5 dengan  huruf, jenis huruf, dan margin disesuaikan Dengan aturan Penerbit
Dengan demikian, membuat  buku dari karya ilmiah bukan berarti hanya mengubah cover dan judul saja sementara isi sama persis dengan KTI yang sudah kita punya. Itu merupakan suatu kesalahan karena akan menjadi self plagiarisme untuk karya kita. Kita harus mengubahnya sesuai dengan aturan yang ada sehingga KTI versi buku tidak akan sama struktur dan isinya dengan KTI aslinya

Apabila ingin mengubah dari laporan penelitian menjadi artikel, lalu diterbitkan di jurnal yang bereputasi. Berikut ini langkah-langkahnya :

1. Abstrak 
Berisi latar belakang singkat, tujuan penelitian, metode penelitian, hasil penelitian, simpulan. Tidak boleh ada sitasi dalam abstrak

2. Pendahuluan
Berisi latar belakang masalah, tinjauan Pustaka secara singkat, tujuan penelitian

3. Metode penelitian
Berisi sampel penelitian, prosedur penelitian (dalam bagan saja), analisis penelitian

4. Hasil dan pembahasan
Berisi hasil penelitian berupa grafik, tabel atau diagram serta pembahasan mengapa mendapatkan hasil demikian yang dikaitkan dengan teori yang ada

5. Simpulan
Menjawab tujuan penelitian

Daftar Pustaka diusahakan yang terbaru dan dari jurnal lain yang bereputasi juga.

Wah, sungguh malam yang sarat akan keilmuan. Jadi tertarik nih untuk mengubah beberapa karya ilmiah yang dulu pernah dibuat, menjadi buku yang akan semakin banyak pembacanya. Semoga segera terwujudkan. 

Sei begeister!






Senin, 22 Agustus 2022

Resume Ke-1"Jemari mulai menari"

Malam ini, Senin 22 Agustus 2022, kamarku lebih dingin dari biasanya.

Selepas sholat isya biasanya langsung lanjut menonton channel pilihan di Youtube. Ditemani dengan rengekan para bocil yang hampir setengah hari tidak bertemu. 

Tapi berbeda dengan malam ini, saya sudah menyiapkan secangkir semangat untuk mengikuti sebuah kegiatan virtual yang membangkitkan semangat yang dulu pernah ada, menulis.

Kegiatan Belajar Menulis yang didukung oleh PGRI kali ini adalah gelombang ke 27. Tidak bisa membayangkan, apabila sekali gelombang 200 saja, berarti kegiatan ini sudah pernah diikuti oleh 5400 an orang. Dari sekian banyak peserta yang telah belajar, pastinya sudah banyak pula yang sudah jadi penulis handal.

Diawali oleh pembukaan moderator pada pukul 19.00 yang menyapa kami para peserta melalu WAG (WhatsApp Group) kemudian mengajak berdoa bersam. Dilanjutkan dengan memperkenalkan Narasumber malam ini yaitu Bapak Wijaya Kusumah atau yang lebih dikenal dengan sapaan Om Jay. Seorang guru SMP yang sudah lebih dari 14 tahun menulis di Kompasiana. 14 tahun yang lalu saya masih kuliah dan belum bisa nulis, masih sibuk mikirin tugas kuliah. Sedangkan beliau sudah mulai menulis di sebuah blog milik Kompas. Waktu itu saya masih menganggap bahwa blog bukanlah media yang ampuh untuk menulis.

Informasi yang pertama disampaikan oleh moderator adalah syarat utama mengikuti kelas menulis ini, yaitu “harus mempunyai blog pribadi”. Syarat berikutnya adalah mempunyai akun blog di Kompasiana. Salah satu keuntungan mempunyai blog di Kompasiana adalah apabila tulisan kita bagus nilainya, maka akan mendapatkan saldo Gopay ratusan ribu hingga satu setengah juta an.

Perlahan tapi pasti narasumber mulai menceritakan tentang bagaimana awalnya beliau menulis. Kemudian memberikan tips bagaimana agar karyanya banyak dibaca oleh orang lain. Menit demi menit saya ikuti paparan dari narasumber. Satu jam berselang tidak terasa sudah banyak sekali informasi berharga yang disampaikan oleh Narasumber. Sebagai peserta saya masih betah dan mampu bertahap mebaca kalimat demi kalimat yang otomatis bergulir pada layer HP. Tidak terasa hampir satu jam saya betah membaca, padahal biasanya kalau membaca buku, 15 menit saja sudah lelah. Sungguh trik yang baik bahwa kegiatan menggunakan WAG.

Satu jam kedua pun dimulai.moderator mulai mempersilahkan peserta untuk mengirimkan pertanyaan melalui nomor WA nya. idak ingin ketinggalan saya  pun ikut melontarkan pertanyaan. Yang menjadi pertanyaan saya adalah darimana dasarnya Kompasiana menentukan nominal K-Reward yang diberikan kepada Kompasianer. Pertanyaan pun dijawab narasumber dengan memuaskan. Terhitung 17 panjang pertanyaan disampaikan oleh peserta dan semuanya dijawab dengan baik oleh narasumber.

Kegiatan ditutup oleh Om Jay dengan pesan:

"Menulis sekarang ini bisa dimana saja. Bisa di blog pribadi, di blog keroyokan seperti Kompasiana atau di Facebook. Menulis di kompasiana.com adalah pilihan tepat untuk kita belajar membaca dan menulis, sebab disana banyak penulis hebat Indonesia. Ingatlah selalu mantra ajaib Om Jay, Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi"

Ahh...malam yang penuh kesan. Satu hal yang pasti, malam ini membuat jemari ini menari.

Selasa, 09 Agustus 2022

KUNJUNGAN TIGA NEGARA

Dahulu, mungkin hanya mimpi untuk bisa ke luar negeri. Selain karena biaya juga karena kesempatan yang jarang bisa akur dengan keinginan.

Hal tersebut kini tidak berlaku bagi kita, karena semuanya sekarang mudah untuk diakses.🚀

1. Mengunjungi gunung Fuji













2. Melepas penat di Kampoeng Cokelat

3. Tamasya dan ibadah di masjid Nabawi














Rabu, 03 Agustus 2022

Baru Bergabung Lagi

 Mencoba bergabung lagi. Untuk mengikuti kegiatan pelatihan menulis PGRI.