Menciptakan budaya positif di sekolah adalah sebuah tantangan yang sangat berat untuk dilakukan. Karena hal tersebut membutuhkan kerjasama banyak pihak, baik dari internal maupun eksternal. Hal pertama yang diciptakan adalah “Disiplin Positif”. Dalam menerapkan disiplin positif harus memberikan contoh terlebih dahulu agar nantinya dapat diteladani. Contoh kecilnya ketika membuang sampah pada tempatnya. Kita harus memberikan contoh sebelum kita menasehati anak-anak.
Hal kedua yang diaplikasikan adalah “Motivasi Perilaku Manusia” dalam hal ini tentang pemberian hukuman dan pengahargaan terhadap siswa. Dengan memperhatikan fungsi keduanya, saya berusaha untuk memberikan hukuman dan atau pengahargaan seuai dengan konteks dan tujuan yang tepat. Krena kedua tindakan tersebut sama-sama memiliki efek negatif.
Hal ketiga yang dilakukan adalah “Posisi Kontrol Restitusi”. Dalam menghadapi permasalahan yang terjadi pada saat atau setelah pembelajaran, saya harus bisa memposisikan diri sebagai teman, manajer, pemantau atau pembuat rasa bersalah. Hal tersebut dilakukan agar dapat menimbulkan efek terhadap subjek yang sedang kita dekati.
Hal keempat yang perlu dibentuk adalah “Keyakinan Sekolah/ Kelas”, agar semua pihak sepakat terhadap peraturan demi terwujudnya cita-cita bersama. Stabilitas sekolah/ kelas pun dapat dijaga apabila seluruh warga sekolah atau anggota kelas dapat mematuhi Keyakinan yang telah disepakati.
Hal terakhir adalah pembinaan terhadap siswa yang bermasalah. Tindakan tersebut dapat menggunakan segitiga restitusi. Tiga tahapan di dalamnya dapat mengurai permasalahan yang ada dan mencarikan alternatif solusi.
Kelima hal tersebut diatas dilakukan dengan landasan filosofi pendidikan KHD, dimana saya harus dapat memahami hakikat pendidikan yang menuntun, memperhatikan kodarat alam dan zaman peserta didik, dan selalu menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid. Dalam melaksanakan tindakan saya bersemangat untuk selalu inovatif dan kolaboratif sesuai dengan nilai-nilai yang saya yakini sebagai calon guru penggerak.
Setelah mempelajari modul ini saya dapat menjelaskan makna
‘kontrol’ dari paparan Teori Kontrol Dr. William Glasser serta miskonsepsi yang
terjadi di kehidupan sehari-hari, serta dapat menjelaskan perubahan paradigma
stimulus respon kepada teori kontrol. Berikutnya saya dapat menjelaskan makna
Disiplin Positif, dan mengamati penerapannya di lingkungannya, serta kaitan
Teori Kontrol. Saya juga dapat menjelaskan pentingnya memilih dan menentukan
nilai-nilai kebajikan yang akan diyakini dan disepakati seluruh warga sekolah,
sehingga kelak tercipta sebuah budaya positif.
Selain itu saya dapat menjelaskan konsep teori motivasi,
hukuman dan penghargaan, dan pendekatan restitusi. Dan juga dapat melakukan
pengamatan dan peninjauan atas praktik penerapan konsep-konsep tersebut di
lingkungan saya sendiri.
Saya dapat menganalisis pentingnya memiliki keyakinan
sekolah/kelas sebagai fondasi dan arah tujuan sebuah sekolah/kelas, yang akan
menjadi landasan dalam memecahkan konflik atau permasalahan di dalam sebuah
sekolah/kelas. Saya juga dapat menjelaskan proses pembentukan dari
peraturan-peraturan beralih ke keyakinan kelas.
Yang menurut saya di luar dugaan adalah pembahasan mengenai
hukuman dan penghargaan. Dimana selama ini saya selalu berpendapat bahwa keduanya
memiliki efek yang positif untuk mendidik karakter siswa. Akan tetapi disini
saya disadarkan mengenai efek negatif dari hukuman dan penghargaan.
Perubahan yang terjadi pada cara berpikir saya dalam
menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah setelah mempelajari modul
ini, akan saya jelaskan. Saya menjadi lebih jeli dalam melihat sebuah
permasalahan. Bahwa sebuah masalah tidak timbul dari sesuatu yang baik-baik
saja. Sehingga tidak cepat memutuskan siapa yang salah dan siapa yang harus
dihukum. Segitiga Restitusi juga menhajarkan saya bahwa pihak yang kita anggap
salah berhak menyampaikan pendapat atau sanggahan atas tuduhan yang kita
berikan. Mereka juga berhak untuk memberikan solusi terhadap kasus yang
dialaminya, seperti pada tahapan kedua Segitiga Restitusi yaitu Validasi
Tindakan yang Salah.
Pengalaman yang
pernah say alami terkait
penerapan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif baik di lingkup kelas
maupun sekolah. Pada saat pengerjaan tugas Demonstrasi Kontekstual modul
1.4 kemarin saya mempraktikkan segitiga restitusi. Dua siswa yang saya anggap
memiliki kasus dalam pelajaran, saya ajak untuk membicarakan permasalahan
mereka.
Menurut saya yang sudah baik adalah pengantar saya menuju proses
identifikasi. Yang perlu diperbaiki adalah intonasi penyampaian saya yang masih
sangat kaku.
Sebelum mempelajari modul ini posisi kontrol yang sering saya
gunakan adalah sebagai pembuat rasa bersalah. Dengan harapan ketika mereka
mengetahui salah mereka maka tidak akan mengulanginya di kemudian hari. Dan
setelah mempelajari modul ini saya lebih senang memposisikan diri sebagai
pemantau awalnya kemudian sebagai manajer. Dengan begitu stabilitas kelas masih
dapat saya kontrol.
Selain konsep-konsep yang disampaikan pada modul ini, hal lain yang saya anggap penting adalah kecepatan progres perubahan. Kita tidak bisa tiba-tiba menjadi orang yang sangat brbeda dari sebelumnya. Hal tersebut akan mempengaruhi pandangan orang-orang di sekitar terutama murid kita sendiri.























