Kota Uslar di Goettingen

Kota kecil menawan yang tak pernah terlupakan. Tiga minggu disana pada November 2019 terasa cepat berlalu.

Sisa peninggalan perang dunia II. Salah satu sisi Tembok Berlin.

Dapat dibayangkan bagaimana Jerman Barat dan Timur harus berpisah puluhan tahun akibat kalah perang.

BI Corner di SIPUSNELA

Kerjasama antara perpustakaan Sipusnela dengan Bank Indonesia salah satunya adalah pengadaan pojok baca.

Outing class kelas peminatan Bahasa Budaya

Salah satu agenda tahunan kelas XI Bahasa mengunjungi Wisma Jerman sebagai perwujudan Merdeka Belajar.

Calon Guru Penggerak Angkatan 7

Belajar sampai akhir hayat, tidak ada kata terlambat.

Keluarga kecil bahagia

Penyemangat disaat lelah dan penghibur disaat gundah, merekalah cintaku.

Kerjasama MGMP dengan UNESA

Salah satu wujud kerjasama antara MGMP Bahasa Jerman dalam pengabdian masyarakat oleh Jurusan Bahasa Jerman UNESA.

Rabu, 09 November 2022

Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1

CGP 7 Lawang



Tulisan ini saya buat untuk menyelesaikan tugas akhir Modul 1.1 dalam Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 7


Salah satu tokoh yang sangat penting dalam dunia pendidikan Indonesia adalah Ki Hadjar Dewantara. Pemikiran yang dimiliki beliau nyatanya mampu diaplikasikan sampai dengan masa kini. Ki Hadjar Dewantara (KHD) membedakan kata Pendidikan dan Pengajaran dalam memahami arti dan tujuan Pendidikan. Menurut KHD, pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari Pendidikan. Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Hal tersebut menyadarkan saya yang selama ini beranggapan bahwa pendidikan dan pengajaran memiliki makna yang sama. Setelah menamatkan modul 1.1 ini beberapa pemikiran yang membekas adalah pendidikan yang menuntun dan tentang budi pekerti. 

Mengenai pendidikan yang menuntun, KHD menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak. Dalam menuntun laku dan pertumbuhan kodrat anak, KHD mengibaratkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Anak-anak itu seperti biji tumbuhan yang disemai dan ditanam oleh pak tani atau pak tukang kebun di lahan yang telah disediakan. Anak-anak itu bagaikan bulir-bulir jagung yang ditanam. Bila biji jagung ditempatkan di tanah yang subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun biji jagung adalah bibit jagung yang kurang baik (kurang berkualitas) dapat tumbuh dengan baik karena perhatian dan perawatan dari pak tani. Mengenai pemikiran ini sebelumnya saya menganggap diri saya adalah satu satunya sumber bagi siswa saya, sehingga saya kurang memberi ruang bagi siswa untuk belajar secara mandiri, saya terus mendikte mereka tentang apa dan bagaimana yang harus dilakukan. Termasuk dalam mengarahkan menuju masa depan saya sedikit memaksakan siswa saya menuju masa depan yang menurut saya baik. 

Pemikiran tentang budi pekerti merupakan salah satu yang menyadarkan saya sebagai pendidik, bahwa sangat penting untuk menumbuhkannya dalam jiwa siswa sedini mungkin. Menurut KHD, budi pekerti, atau watak atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Budi pekerti juga dapat diartikan sebagai perpaduan antara Cipta (kognitif), Karsa (afektif) sehingga menciptakan Karya (psikomotor). Dalam pembelajaran selama ini unsur budi pekerti ini kurang saya aplikasikan secara menyeluruh. Menurut saya siswa yang berbudi pekerti baik adalah yang menyelesaikan dan mengumpulkan tugas tepat waktu serta siswa yang bersikap sopan santun terhadap guru. Ternyata lebih dari itu, budi pekerti seharusnya mempengaruhi keberhasilan pembelajaran. Karena hampir dapat dipastikan bahwa siswa dengan budi pekerti luhur maka kemampuan mereka menguasai keterampilan pembelajaran juga baik. 

Kedepannya saya akan berusaha melaksanakan apa yang telah saya pelajari melalui modul guru penggerak ini.