Kota Uslar di Goettingen

Kota kecil menawan yang tak pernah terlupakan. Tiga minggu disana pada November 2019 terasa cepat berlalu.

Sisa peninggalan perang dunia II. Salah satu sisi Tembok Berlin.

Dapat dibayangkan bagaimana Jerman Barat dan Timur harus berpisah puluhan tahun akibat kalah perang.

BI Corner di SIPUSNELA

Kerjasama antara perpustakaan Sipusnela dengan Bank Indonesia salah satunya adalah pengadaan pojok baca.

Outing class kelas peminatan Bahasa Budaya

Salah satu agenda tahunan kelas XI Bahasa mengunjungi Wisma Jerman sebagai perwujudan Merdeka Belajar.

Calon Guru Penggerak Angkatan 7

Belajar sampai akhir hayat, tidak ada kata terlambat.

Keluarga kecil bahagia

Penyemangat disaat lelah dan penghibur disaat gundah, merekalah cintaku.

Kerjasama MGMP dengan UNESA

Salah satu wujud kerjasama antara MGMP Bahasa Jerman dalam pengabdian masyarakat oleh Jurusan Bahasa Jerman UNESA.

Rabu, 21 Desember 2022

Koneksi Antar Materi_Modul 1.4_Budaya Positif



Menciptakan budaya positif di sekolah adalah sebuah tantangan yang sangat berat untuk dilakukan. Karena hal tersebut membutuhkan kerjasama banyak pihak, baik dari internal maupun eksternal. Hal pertama yang diciptakan adalah “Disiplin Positif”. Dalam menerapkan disiplin positif harus memberikan contoh terlebih dahulu agar nantinya dapat diteladani. Contoh kecilnya ketika membuang sampah pada tempatnya. Kita harus memberikan contoh sebelum kita menasehati anak-anak.

Hal kedua yang diaplikasikan adalah “Motivasi Perilaku Manusia” dalam hal ini tentang pemberian hukuman dan pengahargaan terhadap siswa. Dengan memperhatikan fungsi keduanya, saya berusaha untuk memberikan hukuman dan atau pengahargaan seuai dengan konteks dan tujuan yang tepat. Krena kedua tindakan tersebut sama-sama memiliki efek negatif.

Hal ketiga yang dilakukan adalah “Posisi Kontrol Restitusi”. Dalam menghadapi permasalahan yang terjadi pada saat atau setelah pembelajaran, saya harus bisa memposisikan diri sebagai teman, manajer, pemantau atau pembuat rasa bersalah. Hal tersebut dilakukan agar dapat menimbulkan efek terhadap subjek yang sedang kita dekati.

Hal keempat yang perlu dibentuk adalah “Keyakinan Sekolah/ Kelas”, agar semua pihak sepakat terhadap peraturan demi terwujudnya cita-cita bersama. Stabilitas sekolah/ kelas pun dapat dijaga apabila seluruh warga sekolah atau anggota kelas dapat mematuhi Keyakinan yang telah disepakati.

Hal terakhir adalah pembinaan terhadap siswa yang bermasalah. Tindakan tersebut dapat menggunakan segitiga restitusi. Tiga tahapan di dalamnya dapat mengurai permasalahan yang ada dan mencarikan alternatif solusi.

Kelima hal tersebut diatas dilakukan dengan landasan filosofi pendidikan KHD, dimana saya harus dapat memahami hakikat pendidikan yang menuntun, memperhatikan kodarat alam dan zaman peserta didik, dan selalu  menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid. Dalam melaksanakan tindakan saya bersemangat untuk selalu inovatif dan kolaboratif sesuai dengan nilai-nilai yang saya yakini sebagai calon guru penggerak.  

Setelah mempelajari modul ini saya dapat menjelaskan makna ‘kontrol’ dari paparan Teori Kontrol Dr. William Glasser serta miskonsepsi yang terjadi di kehidupan sehari-hari, serta dapat menjelaskan perubahan paradigma stimulus respon kepada teori kontrol. Berikutnya saya dapat menjelaskan makna Disiplin Positif, dan mengamati penerapannya di lingkungannya, serta kaitan Teori Kontrol. Saya juga dapat menjelaskan pentingnya memilih dan menentukan nilai-nilai kebajikan yang akan diyakini dan disepakati seluruh warga sekolah, sehingga kelak tercipta sebuah budaya positif.

Selain itu saya dapat menjelaskan konsep teori motivasi, hukuman dan penghargaan, dan pendekatan restitusi. Dan juga dapat melakukan pengamatan dan peninjauan atas praktik penerapan konsep-konsep tersebut di lingkungan saya sendiri.

Saya dapat menganalisis pentingnya memiliki keyakinan sekolah/kelas sebagai fondasi dan arah tujuan sebuah sekolah/kelas, yang akan menjadi landasan dalam memecahkan konflik atau permasalahan di dalam sebuah sekolah/kelas. Saya juga dapat menjelaskan proses pembentukan dari peraturan-peraturan beralih ke keyakinan kelas.

Yang menurut saya di luar dugaan adalah pembahasan mengenai hukuman dan penghargaan. Dimana selama ini saya selalu berpendapat bahwa keduanya memiliki efek yang positif untuk mendidik karakter siswa. Akan tetapi disini saya disadarkan mengenai efek negatif dari hukuman dan penghargaan.

Perubahan yang terjadi pada cara berpikir saya dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah setelah mempelajari modul ini, akan saya jelaskan. Saya menjadi lebih jeli dalam melihat sebuah permasalahan. Bahwa sebuah masalah tidak timbul dari sesuatu yang baik-baik saja. Sehingga tidak cepat memutuskan siapa yang salah dan siapa yang harus dihukum. Segitiga Restitusi juga menhajarkan saya bahwa pihak yang kita anggap salah berhak menyampaikan pendapat atau sanggahan atas tuduhan yang kita berikan. Mereka juga berhak untuk memberikan solusi terhadap kasus yang dialaminya, seperti pada tahapan kedua Segitiga Restitusi yaitu Validasi Tindakan yang Salah.

Pengalaman yang pernah say alami terkait penerapan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif baik di lingkup kelas maupun sekolah. Pada saat pengerjaan tugas Demonstrasi Kontekstual modul 1.4 kemarin saya mempraktikkan segitiga restitusi. Dua siswa yang saya anggap memiliki kasus dalam pelajaran, saya ajak untuk membicarakan permasalahan mereka. Awalnya saya khawatir bahwa tindakan yang saya lakukan akan membuat mereka tidak nyaman, akan tetapi di akhir proses mereka malah memberikan tanggapan positif.

Menurut saya yang sudah baik adalah pengantar saya menuju proses identifikasi. Yang perlu diperbaiki adalah intonasi penyampaian saya yang masih sangat kaku.

Sebelum mempelajari modul ini posisi kontrol yang sering saya gunakan adalah sebagai pembuat rasa bersalah. Dengan harapan ketika mereka mengetahui salah mereka maka tidak akan mengulanginya di kemudian hari. Dan setelah mempelajari modul ini saya lebih senang memposisikan diri sebagai pemantau awalnya kemudian sebagai manajer. Dengan begitu stabilitas kelas masih dapat saya kontrol. Sebelum mempelajari modul ini saya belum pernah menerapkan Segitiga Restitusi.

Selain konsep-konsep yang disampaikan pada modul ini, hal lain yang saya anggap penting adalah kecepatan progres perubahan. Kita tidak bisa tiba-tiba menjadi orang yang sangat brbeda dari sebelumnya. Hal tersebut akan mempengaruhi pandangan orang-orang di sekitar terutama murid kita sendiri.