Kota Uslar di Goettingen

Kota kecil menawan yang tak pernah terlupakan. Tiga minggu disana pada November 2019 terasa cepat berlalu.

Sisa peninggalan perang dunia II. Salah satu sisi Tembok Berlin.

Dapat dibayangkan bagaimana Jerman Barat dan Timur harus berpisah puluhan tahun akibat kalah perang.

BI Corner di SIPUSNELA

Kerjasama antara perpustakaan Sipusnela dengan Bank Indonesia salah satunya adalah pengadaan pojok baca.

Outing class kelas peminatan Bahasa Budaya

Salah satu agenda tahunan kelas XI Bahasa mengunjungi Wisma Jerman sebagai perwujudan Merdeka Belajar.

Calon Guru Penggerak Angkatan 7

Belajar sampai akhir hayat, tidak ada kata terlambat.

Keluarga kecil bahagia

Penyemangat disaat lelah dan penghibur disaat gundah, merekalah cintaku.

Kerjasama MGMP dengan UNESA

Salah satu wujud kerjasama antara MGMP Bahasa Jerman dalam pengabdian masyarakat oleh Jurusan Bahasa Jerman UNESA.

Kamis, 30 Maret 2023

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.3

 KONEKSI ANTAR MATERI

MODUL 2. PRAKTIK PEMBELAJARAN YANG BERPIHAK PADA MURID

Pada fase ini saya diminta untuk meninjau ulang keseluruhan materi pembelajaran di Paket Modul 2: Pembelajaran yang berpihak pada murid dan membuat sebuah koneksi antar materi belajar yang sudah saya lakukan. Modul 2 ini dibagi menjadi 3 sub modul, yaitu:

Modul 2.1. Pembelajaran Untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid.
Pada modul ini saya mempelajari antara lain tentang; (A). Apa konsekuensi dari keragaman murid-murid yang ada di kelas mereka; (B). Pemahaman tentang yang dimaksud dengan pembelajaran berdiferensiasi; (C). Bagaimana cara mengetahui kebutuhan belajar murid.

Modul 2.2. Pembelajaran Sosial dan Emosional.
Pada modul ini saya mempelajari antara lain tentang; (A). Urgensi Pembelajaran Sosial dan Emosional untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman agar seluruh individu di sekolah dapat meningkatkan kompetensi akademik dan kesejahteraan psikologis (well-being) secara optimal; Konsep Pembelajaran Sosial dan Emosional berdasarkan kerangka kerja CASEL (Collaborative for Academic, Social and Emotional Learning) yang bertujuan untuk mengembangkan 5 (lima) Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) yaitu: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab; (B). Pemahaman tentang konsep kesadaran penuh (mindfulness) sebagai dasar pengembangan 5 kompetensi sosial emosional (KSE); (C). Implementasi pembelajaran sosial emosional di kelas dan sekolah melalui 4 indikator, yaitu: pengajaran eksplisit, integrasi dalam praktik mengajar guru dan kurikulum akademik, penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah, dan penguatan pembelajaran sosial emosional pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) di sekolah.
Modul 2.3. Coaching Untuk Supervisi Akademik.
Pada modul ini mempelajari antara lain tentang; (A). Konsep Coaching secara umum dan konsep coaching dalam konteks pendidikan; (B). Paradigma berpikir dan konsep coaching; (C). Kompetensi inti coaching dan TIRTA sebagai alur percakapan coaching; (D). Supervisi akademik dan paradigma berpikir coaching.

        Selama kurang lebih satu bulan ini saya telah mempelajari Modul 2. Sebelumnya mengenai materi pembelajaran berdiferensiasi saya sudah pernah mendapatkan di salah satu IHT yang dilaksanakan sekolah saya. Karena pada waktu itu saya kurang maksimal menyimak maka pemahaman tentang Pembelajaran Berdiferensiasi hanya sebatas Format RPP. Meskipun telah saya praktekkan bersama rekan sejawat dan juga mahasiswa praktikan dari Universitas Negeri Malang, saya merasa masih belum sepenuhnya memahami apakah yang dimaksud dengan Pembelajaran Berdiferensiasi.             Setelah memahami Modul 2.1 perlahan pemikiran saya mulai terbuka. Saya sadar bahwa banyak sekali perbedaan yang yang terdapat di kelas. Tidak hanya dalam satu tingkatan/ jenjang, dalam sebuah kelas saja muridnya sudah bermacam-macam. Hal tersebut membutuhkan pemikiran lebih dan aktivitas ekstra untuk menyusun sebuah pembelajaran yang berpihak pada murid.             Pada modul 2.2 berikutnya saya dilengkapi dengan pembelajaran afektif yang dimasukkan kedalam rencana/ skenario pembelajaran. Kompetensi Sosial Emosional yang pada kesempatan ini diperkenalkan pada 5 unsur milik CASEL, menyadarkan saya juga tentang pentingnya pendidikan karakter yang terukur dan terencana. Akan terasa percuma apabila murid hanya pandai saja tapi tidak berkarakter baik apalagi seorang guru yang tidak dapat memberikan teladan karena kurang kompetensi sosial emosionalnya.           Terakhir pada Modul 2.3 saya belajar melakukan observasi dan juga refleksi terhadap diri sendiri serta rekan sejawat. Sangat menarik, menantang dan pastinya melegakan ketika melakukan praktik coaching ataupun supervisi. Tidak sedikit tantangan dalam mempelajari dan mempraktikkan keseluruhan materi pada Modul 2 ini. Pertanyaan: “Apakah saya mampu menyelesaikan ini semua tepat waktu?” Selalu terngiang karena pada penyelesaian modul-modul sebelumnya saya sering terlambat mengumpulkan. Namun demikian, usaha dan doa harus selalu beriringan dijalankan agar semuanya selesai sesuai ekspektasi.