Kota Uslar di Goettingen

Kota kecil menawan yang tak pernah terlupakan. Tiga minggu disana pada November 2019 terasa cepat berlalu.

Sisa peninggalan perang dunia II. Salah satu sisi Tembok Berlin.

Dapat dibayangkan bagaimana Jerman Barat dan Timur harus berpisah puluhan tahun akibat kalah perang.

BI Corner di SIPUSNELA

Kerjasama antara perpustakaan Sipusnela dengan Bank Indonesia salah satunya adalah pengadaan pojok baca.

Outing class kelas peminatan Bahasa Budaya

Salah satu agenda tahunan kelas XI Bahasa mengunjungi Wisma Jerman sebagai perwujudan Merdeka Belajar.

Calon Guru Penggerak Angkatan 7

Belajar sampai akhir hayat, tidak ada kata terlambat.

Keluarga kecil bahagia

Penyemangat disaat lelah dan penghibur disaat gundah, merekalah cintaku.

Kerjasama MGMP dengan UNESA

Salah satu wujud kerjasama antara MGMP Bahasa Jerman dalam pengabdian masyarakat oleh Jurusan Bahasa Jerman UNESA.

Senin, 25 Desember 2023

BABAK PENYISIHAN OLIMPIADE BAHASA JERMAN REGIONAL MALANG 2023

Olimpiade Bahasa Jerman merupakan acara yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya oleh para pembelajar bahasa Jerman seluruh Indonesia. Ajang ini sangat bergengsi karena pemenangnya nanti mendapatkan hadiah yang sangat menarik yaitu kursus bahasa selama 3 minggu di Jerman.

Babak Penyisihan Olimpiade Bahasa Jerman (Regionale Deutscholympiade/ RDO) diselenggarakan secara virtual melalui platform Moodle dan terbagi ke dalam 14 wilayah seleksi. Terdapat beberapa kota ataupun provinsi yang bergabung dan bekerjasama untuk melaksanakan kegiatan ini. 

Setiap provinsi mengirimkan siswa-siswi terbaiknya di jenjang A2 untuk mengikuti babak penyisihan ini, di mana mereka harus menyelesaikan tugas di berbagai kategori seperti membaca (Lesen), menyimak (H
ören), dan menulis (Schreiben). Kemudian, hasilnya akan dikoreksi dan dinilai oleh juri-juri independen, yang terdiri dari guru, dosen, anggota Ikatan Guru Bahasa Jerman Indonesia (IGBJI), dan tim BKD. Tahun ini wilayah Malang mendapatkan jatah untuk mengirimkan tiga siswa terbaiknya melaju ke tingkat Nasional. Hal ini sangat membahagiakan karena di tahun sebelumnya hanya dua orang saja yang diberi kesempatan melaju ke Jakarta.

Untuk provinsi Jawa Timur pelaksanaan RDO dibagi menjadi dua wilayah khusus, yaitu Surabaya dan Malang. Untuk panitia wilayah Malang tahun ini terdiri dari:

Penanggungjawab: Ni Nyoman Maha Raya, S.Pd. Ketua IGBJI Malang dan juga guru bahasa Jerman SMAS Katolik Santo Albertus Malang.

Ketua Panitia: Pratisia Indria Wahyudi, S.Pd. Guru bahasa Jerman SMA Negeri 1 Malang.

Seketaris: Fajerin Nur Syafitri, S.Pd. Guru bahasa Jerman MA Negeri 2 Malang.

Bendahara: Ellysa Yuniar Eka Wardhani, S.Pd. Guru bahassa Jerman SMA Negeri 7 Malang

Anggota kepanitian terdiri dari para guru Bahasa Jerman di wilayah Malang Raya, yaitu:

1.      Inrillian Handriar Fitralino, S.Pd (SMAN 4 Malang) seksi Moodle & Humas.

2.      Anggi Novitasari, M. Pd (SMAN Taruna Nala JawaTimur) seksi Moodle & Humas.

3.      Rizkicha Dyantari Putri, S. Pd (SMK Kesehatan Adi Husada) seksi Acara & Pendaftaran.

4.      Dinie Dwi Putri, S.Pd (SMAN 8 Malang) seksi Acara & Pendaftaran.

5.      Rei Fida Zamzamiyatna,S.Pd (SMAN 1 Gondanglegi) seksi Acara & Pendaftaran.

6.      Rizqa Muthoharoh, S.Pd (SMA Al Rifa’ie Gondanglegi) seksi Konsumsi.

7.      Tri Sulistiyowati, S.Pd (SMA PGRI Kepanjen) seksi Konsumsi.

8.      Lufi Pratama ArdyonS.Pd (SMAN 1 Lawang) seksi Design dan Dokumentasi.

9.      Titus Novendy P., S.Pd (SMAS Katolik Frateran) seksi Perlengkapan dan Piala. 

Untuk peserta yang mengikuti tahun ini sebanyak 52 peserta dan merupakan peserta RDO terbanyak di Indonesia. Mereka merupakan siswa siswi terbaik dari 18 sekolah terbaik di wilayah Malang Raya.

MA Nurul Ulum 2 Kota Malang
1.      Ananda Kendy Aurelia
2.      Callista Chava Asysyafirah
3.      Dewi Mashito
4.      Fatimah Yasmin Kamila
5.      Indira Aulia Rachman
6.      Izzahira Aulia Nabila
7.      Kholifah Mahesa Ayu
8.      May Zahra Firaus Rafida Arifin
9.      Nabila Nahwa Ayu Shabrina
10.  Nafilah Elma Ramadhani
11.  Naila Ramadhani Azahra
12.  Nur Shofa Aliya Putri
13.  Nuril 'Illiyyin
14.  Raissa Nur Maulidiyah
15.  Raisya Sifatun Nisya’
16.  Zabrina Dewie Rhekissy

MA Negeri 2 Kota Malang
17.  Nadine Fairuztiana
 
SMAS Brawijaya Smart School Malang
18.  Keisha Septiani Evangeline Rahardja
19.  Shevarel Haykel Mahendra
 
SMAS Katolik Santo Albertus Malang
20.  Sarah Michaella Poetri Sitanggang
 
SMAN 1 Malang
21.  Ahmad Haidar Mufadol
22.  Aqilah Naila Husna
23.  Nadia Faizah Niriani
24.  Nirina Ayudya Rahmadanty

 SMAN 1 Turen
25.  Chayara Queenerina Wibi
26.  Finsa Oktiva Puspa
27.  Safa Kamila Putri Setyawan

SMAN 4 Malang
28.  Malyaletta Jasmine
29.  Nayaka Jairo Mahogra
 
SMAN 7 Malang
30.  Chelsea Callysta Dhiani
31.  Dwi Purwati
32.  Oktavia Milan Ramadhani
 
SMAN 9 Malang
33.  Lintang Sekar Arum
 
SMAN 1 Bululawang
34.  Farah Diah Nurzahidah Mukti Priyanto
35.  Nania Rusdiana
 
SMAN 1 Gondanglegi
36.  Nikmawatus Windy Widhiyastati
37.  Putri Nabila Ramadani
 
SMAN 1 Lawang
38.  Berliana Mutiara Lestari
39.  Dewi Ayu Anjani
40.  Muhammad Rizky Nugraha Diandhika
41.  Nadya Intan Zahrani
42.  Praycilia Sartika Sugiarto
 
SMAN 1 Tumpang
43.  Arifa Alfionita
 
SMAN 1 Turen
44.  Andi Azzalea Safana
45.  Novanda Eka Putri
 
SMAS Al Rifa’ie Gondanglegi
46.  Clarintha Salsabila Arifin
47.  Rehan Aulia Regustinanda
 
SMKN 4 Malang
48.  Mohammad Daanii Althaaf Reivan Fadhlillah
49.  Vito Valentino Prasetyo Putro
 
IIBS Thursina
50.  Sadid Jundi Furqoni
 
SMA Islam Kepanjen
51.  Mohd. Aimansyah
52.  Mohammad Zidane Al Maula

Uji coba RDO (Probe) dilaksanakan pada hari Sabtu 18 November 2023 pukul 13.00 sampai dengan 15.30 WIB. Bertempat di 3 laboratorium bahasa Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Hal ini merupakan hasil dari kerjasama IGBJI Malang dengan Dr. Dewi Kartika Ardiyani selaku Ketua Departemen dan Koordinator Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Mandarin. Sebelum menuju ke laboratorium seluruh peserta dan guru pendamping berkumpul terlebih dahulu di laboratorium drama Fakultas Sastra untuk mendapatkan informasi mengenai teknis kegiatan.

Final RDO dilaksanakan pada hari Sabtu 25 November 2023 pukul 12.00 sampai dengan 16.30 WIB. Kegiatan berlangsung di tempat yang sama seperti pada saat Probe. Kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai Departemen Bahasa Jerman oleh tim. Nampak para peserta sangat antusias mengikuti, terbukti dari banyaknya siswa yang mengajukan pertanyaan tentang materi. Kegiatan dilanjutkan dengan pelaksanaan Final RDO di ruangan laboratorium yang telah disediakan. Sempat ada beberapa gangguan antara lain suara keramaian di luar gedung dan hujan yang sangat lebat. Bersyukur seluruh gangguan dapat diatasi oleh ketua kegiatan dengan baik.

Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba, pengumuman pemenang RDO 2023. Kegiatan dilaksanakan secara daring pada hari Minggu 10 Desember 2023 pukul 18.30 WIB.  Panitia menetapkan 6 orang siswa akan menjadi juara dalam kegiatan ini. Dewan juri yang diwakili oleh Dr. Dewi Kartika Ardiyani menyampaikan hasil penilaiannya.

Pemenang RDO 2023 Malang:

1.      Muhammad Rizky Nugraha Diandhika

2.      Berliana Mutiara Lestari

3.      Sarah Michaella Poetri Sitanggang

4.      Sadid Jundi Furqoni

5.      Praycilia Sartika Sugiarto

6.      Nadine Fairuztiana

Juara pertama, kedua dan ketiga akan melanjutkan perjuangan untuk mengikuti Olimpiade Bahasa Jerman Tingkat Nasional (Nationale Deutscholympiade/ NDO) 2024 di Jakarta pada bulan Januari 2024. Semoga hasil yang terbaik didapatkan oleh para juara RDO 2023 Malang dan mengharumkan nama Malang khususnya dan Jawa Timur pada umumnya.



Minggu, 21 Mei 2023

Koneksi Antar Materi Modul 3.1: "Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin"

 Tidak terasa sudah sampai di akhir modul 3.1, Pendidikan Guru Peggerak ini saya ikuti. Banyak tambahan ilmu yang saya dapatkan dan memperbaiki pola pikir saya menuju kemajuan pendidikan Indonesia. Dalam kesempatan ini saya akan sedikit menuliskan hubungan atau koneksi antara modul 3.1 ini dengan modul-modul sebelumnya.

Pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin merupakan pendekatan yang melibatkan pertimbangan moral dan etika dalam proses pengambilan keputusan. Pendekatan ini mengutamakan prinsip-prinsip moral yang mendasari keputusan yang diambil, dengan mempertimbangkan nilai-nilai kebajikan yang dijunjung tinggi. Berikut adalah beberapa nilai-nilai kebajikan yang sering digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin:

1. Keadilan: Nilai keadilan menekankan perlakuan yang adil dan setara terhadap semua orang tanpa memandang ras, agama, jenis kelamin, atau latar belakang sosial-ekonomi. Sebagai pemimpin, pengambilan keputusan yang adil dan berdasarkan pada prinsip-prinsip keadilan akan mencerminkan integritas dan kepercayaan dalam kepemimpinan.

2. Kejujuran: Kejujuran adalah nilai penting dalam kepemimpinan. Seorang pemimpin yang berpegang pada kejujuran akan mengutamakan integritas dalam pengambilan keputusan. Dalam situasi apapun, pemimpin yang jujur akan berbicara dan bertindak sesuai dengan fakta dan kebenaran, tanpa memanipulasi atau menyembunyikan informasi yang relevan.

3. Tanggung Jawab: Tanggung jawab adalah nilai kebajikan yang penting bagi seorang pemimpin. Seorang pemimpin bertanggung jawab atas keputusan dan tindakan yang diambilnya, serta konsekuensinya terhadap orang-orang yang dipimpinnya dan lingkungan sekitarnya. Dalam pengambilan keputusan, pemimpin bertanggung jawab untuk mempertimbangkan dampak positif dan negatif keputusan terhadap semua pihak yang terlibat.

4. Kepedulian: Seorang pemimpin yang mempertimbangkan nilai-nilai kebajikan juga harus memiliki sikap kepedulian terhadap kesejahteraan dan kebutuhan orang lain. Memperhatikan kepentingan dan kesejahteraan anggota tim atau masyarakat secara keseluruhan akan menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan yang berkelanjutan dan berorientasi pada kebaikan bersama.

5. Ketekunan: Ketekunan adalah nilai kebajikan yang melibatkan kerja keras, ketekunan, dan tekad yang kuat dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Seorang pemimpin yang berpegang pada nilai ini akan memiliki kemampuan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan dalam pengambilan keputusan, serta bertahan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin bukanlah proses yang mudah. Namun, dengan menjunjung tinggi nilai-nilai ini, seorang pemimpin dapat memperkuat integritasnya, membangun kepercayaan dengan orang lain, dan menghasilkan keputusan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.

Pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin dapat memiliki hubungan yang erat dengan praktik pembelajaran yang berpihak pada murid. Berikut adalah beberapa cara di mana hubungan tersebut dapat terwujud:

1. Orientasi pada perkembangan murid: Pemimpin yang mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan akan cenderung memprioritaskan kepentingan dan perkembangan murid. Dalam konteks pendidikan, hal ini dapat tercermin dalam praktik pembelajaran yang berfokus pada pengembangan potensi dan kesejahteraan murid. Pemimpin tersebut akan mendukung pengajaran yang menstimulasi pertumbuhan intelektual, emosional, dan sosial murid.


2. Keadilan dan kesetaraan: Pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan mempromosikan prinsip-prinsip keadilan dan kesetaraan. Pemimpin yang memegang nilai-nilai kebajikan akan berupaya untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif, di mana semua murid diperlakukan secara adil dan memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang. Hal ini dapat diwujudkan melalui praktik-praktik seperti penilaian objektif, pengajaran diferensial, dan penanganan konflik yang adil.

3. Etika dan integritas: Pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan melibatkan komitmen terhadap prinsip-prinsip etika dan integritas. Sebagai pemimpin, hal ini berarti menjunjung tinggi tanggung jawab moral terhadap murid dan komunitas sekolah. Praktik pembelajaran yang berpihak pada murid akan mencakup standar etika yang tinggi, seperti kejujuran, rasa hormat, dan tanggung jawab. Pemimpin yang mengutamakan nilai-nilai kebajikan akan menunjukkan keteladanan dalam perilaku mereka sendiri dan mendorong murid untuk mengembangkan sikap yang sama.

4. Pemberdayaan murid: Pemimpin yang berfokus pada pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan akan berupaya untuk memberdayakan murid dalam proses pembelajaran. Mereka akan mendorong partisipasi aktif murid, memberikan kesempatan untuk mengemukakan pendapat, dan mengambil peran dalam pengambilan keputusan yang memengaruhi mereka. Praktik pembelajaran yang berpihak pada murid akan melibatkan penggunaan metode yang memungkinkan murid untuk mengambil inisiatif, mengembangkan keterampilan berpikir kritis, dan merasa memiliki tanggung jawab terhadap proses pembelajaran mereka sendiri.

Dalam keseluruhan, pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin dapat memberikan arah dan kerangka kerja yang kuat untuk menciptakan praktik pembelajaran yang berpihak pada murid. Hal ini melibatkan penerapan nilai-nilai kebajikan dalam pendekatan kepemimpinan, mempromosikan keadilan, kesetaraan, etika, dan pemberdayaan murid dalam konteks pembelajaran.

Hubungan antara pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin dengan paradigma dan visi guru penggerak adalah bahwa nilai-nilai kebajikan yang dimiliki oleh seorang pemimpin dapat memengaruhi paradigma dan visi guru penggerak dalam mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan.

Sebagai seorang pemimpin, pengambilan keputusan yang didasarkan pada nilai-nilai kebajikan seperti kejujuran, integritas, tanggung jawab, dan empati dapat membentuk pandangan dan sikap pemimpin terhadap pendidikan. Ketika pemimpin mempertimbangkan nilai-nilai ini dalam pengambilan keputusan, ia dapat membentuk paradigma atau kerangka pemikiran yang mengedepankan integritas, keadilan, dan kepentingan siswa sebagai fokus utama.

Paradigma dan visi guru penggerak mengacu pada pandangan dan tujuan guru dalam menjalankan tugas mereka sebagai penggerak pendidikan. Jika pemimpin memimpin dengan memegang teguh nilai-nilai kebajikan, ini dapat mempengaruhi guru penggerak dalam mengadopsi nilai-nilai yang sama dalam pendekatan mereka terhadap pengajaran dan pembelajaran. Seorang pemimpin yang menjunjung tinggi kejujuran, misalnya, mungkin akan mendorong guru penggerak untuk berlaku jujur dalam penilaian dan pelaporan kemajuan siswa.

Pemimpin yang berkomitmen terhadap nilai-nilai kebajikan juga dapat membentuk visi guru penggerak dengan mempromosikan nilai-nilai seperti keadilan, empati, dan tanggung jawab sosial dalam pendidikan. Misalnya, pemimpin yang vokal dalam mengedepankan keadilan dan tanggung jawab sosial mungkin akan menginspirasi guru penggerak untuk mengembangkan program atau kegiatan yang mempromosikan nilai-nilai tersebut di dalam dan di luar kelas.

Dengan demikian, pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan oleh seorang pemimpin dapat mempengaruhi paradigma dan visi guru penggerak dengan mengarahkan mereka pada pendekatan yang lebih holistik, etis, dan berfokus pada kepentingan siswa serta mencapai tujuan pendidikan yang lebih luas.


Senin, 17 April 2023

PARADIGMA RASA KEADILAN LAWAN RASA KASIHAN PADA TINGKATAN SEKOLAH MENENGAH ATAS DAN TAMAN KANAK-KANAK

Pada Demonstrasi Kontekstual modul 3.1 ini saya diminta untuk mewawancarai 2 atau 3 orang pimpinan (kepala sekolah) di lingkungan saya. Dimana pada kesempatan ini saya mewawancarai Kepala SMA N 1 Lawang, Dr. Abdul Tedy, M.Pd dan juga Kepala TK El Mu’jizah Malang, Risa Rahmatul Aida Widiastuti, S.Pd. Kegiatan saya laksanakan pada hari Senin 17 April 2023 di tempat yang berbeda. Bapak Abdul Tedy yang merupakan atasan langsung, saya minta waktunya untuk wawancara di sekolah. Sedangkan bersama Ibu Risa (rekan saya) kami laksanakan wawancara di kediaman beliau sepulang sekolah.


Sesuai panduan pertanyaan wawancara diperoleh hasil sebagai berikut;

Perta-

nyaan

ke …

Jawaban

Keterangan

Narsum 1

Narsum 2

1

Mengidentifikasi kasus-kasus pada saat kegiatan belajar mengajar dan juga pelaksanaan tugas tambahan.

Mengidentifikasi kasus pada saat jalannya KBM serta informasi dari wali murid.

 

2

Pengambilan keputusan didasarkan pada tugas utama yang bersangkutan dalam memberikan pelayanan prima kepada peserta didik.

Keputusan tersebut diambil dari hasil musyawarah antara guru dan KS serta orang tua.

 

3

Pemanggilan.

Melaksanakan komunikasi secara personal.

Bersama mencari solusi yang tepat.

Observasi permasalahan

Dukungan terhadap siswa yang terlibat

Mengumpulkan informasi dari berbagai pihak

Diskusi antara semua pihak yang berkepentingan

 

4

Pendekatan persuasif personal.

Pendekatan secara formal.

Memberikan dukungan serta tindak lanjut kepada siswa yang terlibat agar hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.

 

5

Tantangannya adalah mendapatkan ucapan tidak mengenakkan dan sering dianggap tidak memiliki keberpihakan ketika melakukan peneguran.

Keinginan Orangtua yang sudah bulat dan tidak mau diberi masukan.

 

6

Langsung menyelesaikan tanpa menunggu lama.

Memiliki jadwal tertentu, yaitu hari Rabu untuk tenaga kependidikan dan hari Jumat untuk bapak ibu guru.

Memiliki jadwal untuk menyelesaikan kasus

Prosedurnya; Memberikan hasil observasi tentang siswa kepada orangtua; Mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan dari orangtua.

 

7

Mengajak wakil kepala sekolah dan atau serta staf dalam menghadapi kasus dilema etika.

Ada. Yaitu teman sejawat baik disekolah maupun di luar sekolah.

Bengkel kerja guru (gugus) dan organisasi TK lainnya.

 

8

Menjadi tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Dengan bantuan pertimbangan dari rekan-rekan Waka kasus dapat terselesaikan dan mendukung kebijakan baru yang dibuat.

Mengubah kebijakan berdasarkan koreksi dari kejadian yang telah terjadi dengan cara:

PPDB diperketat dengan prasyarat umur yang tepat

Tidak memberikan peluang bagi anak yang usianya kurang untuk titip sekolah.

 

Kesimpulan yang dapat diambil dari kedua wawancara tersebut adalah:

  • Kasus dari Narsum 1 yaitu adanya guru yang selalu tidak datang tepat waktu karena berbeda pendapat tentang kebijakan berdoa bersama di pagi hari. Kasus dari Narsum 2 yaitu adanya wali murid yang memaksakan anaknya masuk sekolah lebih awal dan meminta agar bisa masuk SD meskipun umurnya masih kurang.
  • Kedua kasus tersebut memiliki paradigma yang sama yaitu Rasa Keadilan Lawan Rasa Kasihan (justice vs. mercy). Pada kasus satu Narsum merasa tidak adil apabila membiarkan si guru masuk sesuai keinginan sendiri dan Narsum kasihan apabila guru tersebut di “cap” jelek oleh lingkungan. Pada kasus 2 Narsum merasa tidak adil apabila siswi harus tinggal kelas sedangkan teman sekelas masuk SD namun juga kasihan kalau dia masuk sekolah dengan umur yang masih sangat kurang.
  • Praktik pengambilan keputusan dilema etika yang dilakukan oleh kedua pimpinan tersebut berdasarkan prinsip Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) dan Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking).
  • 9 langkah Konsep Pengambilan dan Pengujian Keputusan yang dilakukan oleh kedua pimpinan tersebut dapat dilihat dari tabel perbandingan berikut:

Lang-

kah ke …

Jawaban

Keterangan

Narsum 1

Narsum 2

1

Nilai yang bertentangan adalah antara aspek moral dengan sopan santun.

Nilai yang bertentangan adalah antara aspek moral dengan norma sosial.


2

Yang terlibat antara lain: Kepala sekolah, Guru, Siswa dan tenaga kependidikan.

Yang terlibat antara lain: Kepala sekolah, Guru, Siswa dan Wali murid.


3

Dikumpulkan dari laporan rekan sejawat dan siswa yang diajar guru tersebut.

Dikumpulkan dari laporan guru kelas, wali murid dan teman siswa.


4

Melaksanakan Uji Intuisi dan Uji Panutan.

Melaksanakan Uji Intuisi dan Uji Panutan.


5

Paradigma yang terjadi: Rasa keadilan lawan rasa kasihan; Kebenaran lawan kesetiaan.

Paradigma yang terjadi: Rasa keadilan lawan rasa kasihan; Jangka pendek lawan jangka panjang.


6

Prinsip Resolusi yang digunakan: Berpikir berbasis peraturan dan rasa peduli.

Prinsip Resolusi yang digunakan: Berpikir berbasis peraturan dan rasa peduli.


7

Tidak muncul opsi Trilema.

Opsi Trilema yang muncul adalah penambahan jam ekstrakurikuler calistung.


8

Keputusan yang diambil adalah mengubah kebijakan dan tata cara berdoa bersama di pagi hari.

Keputusan yang diambil adalah memperketat persyaratan usia bagi calon siswa dan tidak menerima program “titipan”


9

Pemantauan dilakukan dan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan berikutnya.

Pemantauan dilakukan dan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan berikutnya.



Demikian hasil analisa dari wawancara yang telah saya lakukan terhadap dua pimpinan lembaga pendidikan yang berbeda. Banyak informasi baru dan pemahaman yang saya dapatkan setelah melakukan wawancara dan menganalisanya.