Pada Demonstrasi Kontekstual modul 3.1 ini saya diminta untuk mewawancarai 2 atau 3 orang pimpinan (kepala sekolah) di lingkungan saya. Dimana pada kesempatan ini saya mewawancarai Kepala SMA N 1 Lawang, Dr. Abdul Tedy, M.Pd dan juga Kepala TK El Mu’jizah Malang, Risa Rahmatul Aida Widiastuti, S.Pd. Kegiatan saya laksanakan pada hari Senin 17 April 2023 di tempat yang berbeda. Bapak Abdul Tedy yang merupakan atasan langsung, saya minta waktunya untuk wawancara di sekolah. Sedangkan bersama Ibu Risa (rekan saya) kami laksanakan wawancara di kediaman beliau sepulang sekolah.
Sesuai panduan pertanyaan wawancara diperoleh hasil sebagai berikut;
|
Perta- nyaan ke … |
Jawaban |
Keterangan |
|
|
Narsum 1 |
Narsum 2 |
||
|
1 |
Mengidentifikasi
kasus-kasus pada saat kegiatan belajar mengajar dan juga pelaksanaan tugas
tambahan. |
Mengidentifikasi
kasus pada saat jalannya KBM serta informasi dari wali murid. |
|
|
2 |
Pengambilan
keputusan didasarkan pada tugas utama yang bersangkutan dalam memberikan
pelayanan prima kepada peserta didik. |
Keputusan tersebut
diambil dari hasil musyawarah antara guru dan KS serta orang tua. |
|
|
3 |
Pemanggilan. Melaksanakan
komunikasi secara personal. Bersama mencari
solusi yang tepat. |
Observasi
permasalahan Dukungan terhadap
siswa yang terlibat Mengumpulkan
informasi dari berbagai pihak Diskusi antara
semua pihak yang berkepentingan |
|
|
4 |
Pendekatan
persuasif personal. Pendekatan secara
formal. |
Memberikan
dukungan serta tindak lanjut kepada siswa yang terlibat agar hasilnya sesuai
dengan yang diharapkan. |
|
|
5 |
Tantangannya
adalah mendapatkan ucapan tidak mengenakkan dan sering dianggap tidak
memiliki keberpihakan ketika melakukan peneguran. |
Keinginan Orangtua
yang sudah bulat dan tidak mau diberi masukan. |
|
|
6 |
Langsung
menyelesaikan tanpa menunggu lama. Memiliki jadwal
tertentu, yaitu hari Rabu untuk tenaga kependidikan dan hari Jumat untuk
bapak ibu guru. |
Memiliki jadwal
untuk menyelesaikan kasus Prosedurnya;
Memberikan hasil observasi tentang siswa kepada orangtua; Mengambil keputusan
berdasarkan pertimbangan dari orangtua. |
|
|
7 |
Mengajak wakil
kepala sekolah dan atau serta staf dalam menghadapi kasus dilema etika. |
Ada. Yaitu teman
sejawat baik disekolah maupun di luar sekolah. Bengkel kerja guru
(gugus) dan organisasi TK lainnya. |
|
|
8 |
Menjadi tidak
tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Dengan bantuan pertimbangan dari
rekan-rekan Waka kasus dapat terselesaikan dan mendukung kebijakan baru yang
dibuat. |
Mengubah kebijakan
berdasarkan koreksi dari kejadian yang telah terjadi dengan cara: PPDB diperketat
dengan prasyarat umur yang tepat Tidak memberikan
peluang bagi anak yang usianya kurang untuk titip sekolah. |
|
Kesimpulan yang dapat diambil dari kedua wawancara tersebut adalah:
- Kasus dari Narsum 1 yaitu adanya guru yang selalu tidak datang tepat waktu karena berbeda pendapat tentang kebijakan berdoa bersama di pagi hari. Kasus dari Narsum 2 yaitu adanya wali murid yang memaksakan anaknya masuk sekolah lebih awal dan meminta agar bisa masuk SD meskipun umurnya masih kurang.
- Kedua kasus tersebut memiliki paradigma yang sama yaitu Rasa Keadilan Lawan Rasa Kasihan (justice vs. mercy). Pada kasus satu Narsum merasa tidak adil apabila membiarkan si guru masuk sesuai keinginan sendiri dan Narsum kasihan apabila guru tersebut di “cap” jelek oleh lingkungan. Pada kasus 2 Narsum merasa tidak adil apabila siswi harus tinggal kelas sedangkan teman sekelas masuk SD namun juga kasihan kalau dia masuk sekolah dengan umur yang masih sangat kurang.
- Praktik pengambilan keputusan dilema etika yang dilakukan oleh kedua pimpinan tersebut berdasarkan prinsip Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) dan Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking).
- 9 langkah Konsep Pengambilan dan Pengujian Keputusan yang dilakukan oleh kedua pimpinan tersebut dapat dilihat dari tabel perbandingan berikut:









Tetap semangat herr lufi ...
BalasHapusLuar biasa Herr Lufi, semangat belajar sepanjang hayat.
BalasHapus